Rabu, 09 Agustus 2017

Simnas Mosi Integral, Ketua MPR: Yuk, Kita Move On!




Bangsa Indonesia yang sudah 72 tahun menikmati kemerdekaan ini telah bersepakat untuk satu dalam keberagaman. “Kita sudah 72 tahun merdeka. Kita sudah sepakat, satu dalam keragaman, berbagai suku dan agama, saling menghormati, saling menghargai satu sama lain,” tegas Ketua MPR RI, Zulkfili Hasan saat meresmikan Seminar Nasional "Mosi Integral M. Natsir, Upaya Pemersatu Bangsa" di Gedung Merdeka, Bandung (5/8/17).


Integral Bukan Unitarisme

Karena itu, lewat seminar ini Zulkifli kembali mengajak kita melanjutkan perjuangan, mengisi kemerdekaan dengan bersama mengembangkan generasi yang kreatif, inovatif dan berdikari.   

“Karena itu, mari hentikan silang sengketa, saling menfitnah, saling menyakiti sebagai sesama anak negeri. Kata anak muda, kita move on. Kita menyiapkan anak-anak muda kita, generasi bangsa Indonesia, generasi yang punya ilmu, memiliki nilai-nilai, produktivitas, daya saing, sehingga kreatif, inovatif dan berdikari,” jelasnya.  


Pengurus Muhammadiyah Jawa Barat Sanusi Uwes menyampaikan, pembentukan BFO (Bijeenkomst voor Federal Overleg) oleh Belanda pasca Perjanjian Renville (1948) berujung pada Daerah-daerah yang melepaskan diri dari Negara Bagiannya. Setelah penandatanganan Konfrensi Meja Bundar (KMB/ 1949), kita terus dipaksa menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagaimana dituntut dalam Perjanjian Linggarjati (1947).

“Di Jawa Barat, dengan adanya BFO, Sukabumi termasuk pelopor keluar dari Negara Pasundan. Malang pelopori keluar dari Negara Jawa Timur. Banyak bagian yang sengaja keluar dari Negara-negara bagiannya. Di Konfrensi Meja Bundar, Indonesia dituntut untuk RIS sebagaimana tuntutan pertama waktu Perjanjian Linggarjati” tuturnya.  

Hal ini mendorong Muhammad Natsir berpikir keras berupaya mempersatukan hingga muncul dengan gagasan Mosi Integral. Istilah Integral berbeda dengan unitarisme yang diinginkan Belanda dalam RIS.

“Itulah yang mendorong Bapak Muhammad Natsir berpikir lebih keras sesudah KMB, yang menjadikan mosinya integral. Integral berbeda dengan unitarisme. Yang dianggap RIS, Negara-negara Bagian masuk ke Negara Republik Indonesia, yang waktu itu disebutkan malah Negara Yoyakarta, sebab ibukotanya di Yogyakarta,” jelasnya.


Sehingga berat bagi Negara-negara Bagian ini untuk masuk ke Negara Republik Indonesia di Yogyakarta karena menganggap Yogyakarta setara dengan Negara-negara Bagian itu.

“Tentu saja Negara-negara Bagian ini berat kalau masuk ke Negara Republik Indonesia di Yogyakarta. Sebab mereka menganggap itu mempunyai derajat sama antara Negara Yogyakarta, Pasundan, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan seterusnya,” imbuhnya.

Maka Pak Natsir berkeliling ke seluruh daerah memperjuangkan Mosi Integral sebagai upaya pemersatu bangsa.

“Inilah yang menjadikan Pak Natsir sering sekali pergi ke daerah. Dengan integral, tidak ada antara Negara-negara itu masuk ke Republik Indonesia. Tapi semua negara melebur menjadi satu kesatuan yang integral bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.    


Hadir juga sebagai pembicara, antara lain; Dadan Wildan dari Persatuan Islam, Mohammad Siddik dari DDII, Usep Fathuddien dari Mathlaul Anwar, dan Putra M. Natsir, Achmad Fauzie Natsir, bersama moderator Teuku Abdullah Sanny dari Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar