Jumat, 28 Juli 2017

Bukatalks “Komik di Era Digital”: Ayo Kembalikan Stamina Komikus Gambar Cerita Panjang!



Sebelum bermunculan komik digital, penerbitan komik buku anak bangsa sudah lebih dulu lesu meski selalu nomor satu. “Industri komik buku di Indonesia, sebelum ada komik digital pun sudah kembang kempis. Komik buku matinya di toko buku. Ada komik Jepang, Amerika, memang itu saingan paling besar, selain pola pikir. Ada kecenderungan lebih baik membeli yang sudah pasti. Komik Indonesia kan selalu nomor satu. Terbit edisi pertama, nomor dua tidak ada,” ungkap Komikus Beng Rahadian dalam Bukatalks “Komik di Era Digital”, Bukalapak, City View, Jakarta (27/7/17).



Komik Strip Untuk Latihan

Mengatasi kelesuan, banyak komikus memilih berkarya lewat komik strip yang langsung diunggah ke internet menemui para pembaca. Namun belum banyak komikus yang menggambar komik bercerita panjang.  

“Banyak yang pakai komik strip. Persoalan kita kehilangan stamina komikus-komikus untuk membuat cerita panjang. Padahal narasi yang penting. Ketika membuat narasi, kita menciptakan kebudayaan. Banyak hal yang tidak sempat diceritakan hanya karena kita ingin cepat banyak, cepat sukses, dan besar. Kita lupa semua ada proses juga,” tuturnya.




Selanjutnya, Pengajar Ilustrasi DKV Institut Kesenian Jakarta ini mengajak para komikus pemula untuk banyak berlatih dengan komik strip, dan mencoba menggambar komik panjang, dimulai dengan membuat komik pendek.   

“Saya mengajak teman-teman pemula yang ingin membuat komik, kita berlatih banyak. Komik strip dipakai untuk latihan. Tapi cobalah bikin komik pendek, 8-16 halaman. Setelah itu bikin komik panjang, di atas 24 halaman. Jadi kita tidak kehilangan narator-narator dalam bidang komik,” ajaknya.

Hadir juga sebagai narasumber komikus @tahilalats, Nurfadli Musryid, dan Kreator Komik @getgoh dan komunitas Komikinajah, Randy Indrayanto.


2 komentar:

  1. Komik sekarang jarang ya yg berasal dari Indonesia, atau udah ada tapi blm booming? Ini sayang banget karena banyak kok generasi muda Indonesia yang gambar2nya jauh lebih bagus. Mungkin klo versi cetak mulai susah meraih pasar, kenapa nggak mencoba komik online atau komik digital ya

    BalasHapus
  2. iya kak komikus kita makin keren. kini banyak komikus kita yang lebih memilih medium internet. mungkin kalau fansnya sudah terpelihara kuat, mereka akan rilis versi cetak untuk koleksi bukan sekadar konsumsi.

    BalasHapus