Rabu, 18 Januari 2017

TransJakarta Target Angkut 120 Juta Penumpang Tahun Ini

| sumber: paramadina.ac.id | 
Upaya menciptakan lalu-lintas Jakarta yang lancar, dan bebas macet dengan layanan transportasi publik, bukan semata tugas Gubernur DKI Jakarta dan TransJakarta, juga seluruh warga DKI Jakarta terutama para intelektual. Dan Ibukota menaruh harapan besar terhadap Kaum Muda untuk dapat mendukung, menginformasikan dan mengedukasi masyarakat luas akan pentingnya menggunakan transportasi publik. Direktur Operasional PT Transjakarta Daud Joseph menyampaikan hal ini dalam “Rumpi Transportasi Publik Bareng Anak Muda”, Universitas Paramadina, Jakarta (14/1/17)




Impossible is Nothing

“Main goals kita adalah 60% dari penduduk Jakarta travelling by public transportation by 2029. Masih jauh, masih 12 tahun lagi.  Kita punya waktu jadi pewarta untuk kasih tahu ke mereka semua bahwa transportasi publik punya good deeds dan kita musti ikut. Mulai dari kaum intelektual, dan kita harus mulai dari kaum muda,” tandasnya.

Lebih lanjut, Jos, demikian ia ingin disapa, menuturkan, banyak yang meragukan target yang diusung itu. Impossible, kata mereka.  

“Target ini ada yang bilang imposible. Sama seperti orang yang bilang ketika tahun ini kita bikin target 120 juta itu impossible, karena tahun lalu Transjakarta cuma dapat penumpang 100 juta. Tahun ini saya bikin target ke Gubermur, 120 juta. Semua orang bilang; jangan kamu nekat. tidak akan mungkin tercapai, minta digantung? Tahun depan bisa diganti lagi dirutnya kalau tidak tercapai. Tapi kita bilang, yang jadi modal seseorang bisa mencapai adalah semangat dan kerja keras,” tegasnya.    


sumber: detik.com


Akan Punya 147 Rute

Layanan TransJakarta kini menyeluruh se-Jabodetabek.

 “Dulu saudara hanya melihat busway di tempat-tempat yang sangat indah dibatasi kereta kencana bernama korindor. Tapi hari ini Anda harus lihat, TransJakarta bersaing ke luar kota; Bekasi Barat, Bekasi Timur, Depok, Cibubur, Poris, Ciputat. Kita sayang semuanya, jadi Jabodetabek mesti kita tembusin,” ungkapnya.  

Jika awalnya TransJakarta menyambungkan antara koridor ke koridor, kini juga melayani rute-rute kecil, menjemput penumpang-penumpang di sekitar stasiun-stasuin kereta.  

“Rute-rute kecil. Anda yang suka naik kereta, kita jemput pelanggan kereta di Palmerah, Tebet, Cawang, Manggarai, Jatinegara, Tanah Abang, Bekasi jelas pasti,” imbuhnya.

Maka kini TransJakarta beralih dari Transportasi berbasis Koridor ke Transportasi berbasis Jaringan, meski diakui memang terlihat berantakan.

“Tahun ini kita bikin rutenya memang jadi acak-adut. Tapi justru itulah poin dari TransJakarta. Kita bukan lagi corridor based transportation tapi kita adalah network based transportation yang menyambungkan dari ujung ke ujung penduduk DKI Jakarta tanpa batasan,” bebernya.  

Di awal 2016, sebut Jos, TransJakarta mulai dengan 39 rute, di akhir 2016 sudah berjumlah 80 rute, dan di akhir tahun depan akan memiliki 147 rute.  

“Nanti Anda walking through your front door dan akan ketemu TransJakarta di situ. Tunggu waktunya,” janji Jos.

Mahasiswa Hubungan Masyarakat Universitas Paramadina menginisiasi sebuah kampanye berjudul “Paramadina Youth Campaign”. Tujuan kampanye ini adalah untuk mengubah polapikir anak-anak muda tentang transportasi publik. Kampanye dilakukan antara lain dengan mengadakan diskusi interaktif ini dilanjutkan dengan naik Transjakarta dan melakukan selfie challenge di Instagram dengan hashtag #BuswayYuk.

Hadir juga sebagai narasumber; Dosen Universitas Paramadina dan Pendiri KedaiKopi, Hendri Satrio, Head of Communication Jakarta Smart City, Daniel Giovanni, dan Trafi Country Manager Indonesia, Dimas Dwilasetio. Acara ini didukung TransJakarta, Jakarta Smart City, dan Trafi, serta disponsori Mandiriku, Carribou, dan BRIK.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar