Selasa, 17 Januari 2017

TransJakarta Udara? Ya, Akan Tiba Waktunya



| sumber: paramadina.ac.id |
PT Transportasi Jakarta sedang menambah koridor dengan membangun Koridor 13 Ruas Ciledug - Kapten Tendean. Kemudian  muncul pemikiran baru: bagaimana agar bisa juga membuat Transjakarta udara. Whoa. Simak penuturan Direktur Operasional PT TransJakarta Daud Joseph dalam “Rumpi Transportasi Publik Bareng Anak Muda”, Universitas Paramadina, Jakarta (14/1/17)



Lahan Tak Terbeli 

“Ketika harga tanah di Jakarta sudah terlalu mahal untuk kita bikin tiang-tiang pancang rel, koridor-koridor busway, pool bus yang gede-gede, saya harus mulai berpikir apakah lebih murah membeli helikopter untuk antar saudara dari satu titik ke titik yang lain. Yes, that time will come. Karena suatu saat  harga tanah di Jakarta sudah tidak bisa terbeli lagi,” ungkapnya.

Sekarang saja, lanjut Jos, demikian ia ingin dipanggil, ketika membangun Koridor 13, ia sedang kesulitan mencari jalan memutar di Ciledung. 

“Ketika bikin Koridor 13, saya lagi kesusahan cari tempat memutar di ujung sana di Ciledug. Satu orang begitu sudah tahu TransJakarta mencari tempat memutar, semua tanah bahkan tanah makam pun dia sudah kasih harga mahal, karena dia tahu, mau tidak mau musti dibeli,” tuturnya yang saat ini sedang membuat visibility study untuk sistem transportasi udara.

Maka ke depan ketika terlintas kata Transjakarta, jangan berpikir tentang bus lagi. 

“Jadi akan datang waktunya transportasi udara juga layak menjadi transportasi umum. Ketika berpikir TransJakarta lain waktu, Anda jangan berpikir tentang bus lagi, tapi berpikir tentang memindahkan manusia dari satu titik ke titik yang lain,” jelasnya. 

sumber: paramadina.ac.id
  
Tidak Cari Untung

Sistem Transportasi Jakarta berorientasi pada pelayanan, maka PT Transportasi Jakarta tidak cari untung. Ini yang harus digarisbawahi, pinta Jos.

“Kalau nanti teman-teman sempat ketemu pengelola metromini, supir kopaja atau pengemudi ojek, supir mikrolet, yang merasa rutenya digantikan Transjakarta, bilang sama mereka, Transportasi Jakarta tidak cari untung. Bagaimana caranya Rp 3500 bisa beli Scania yang ber-AC dan gandeng kayak begitu? Tidak menutup. Itungannya tidak ke mana-mana. TransJakarta beroperasi untuk menciptakan service level,”  tandasnya.  

Soal service level, Jos menyontohkan, sebagai warga DKI Jakarta, pada peak hour (jam padat) yaitu antara pukul 6 pagi hingga 10 siang, para pengguna Transjakarta berhak dilayani, dan dijemput di halte tiap 7 menit paling lama. Sedang saat off peak (waktu tidak padat), yakin antara pukul 10 pagi hingga 4 siang, paling lama mereka harus dijemput di halte tiap 15 menit. 

That's your right. Sebagai warga DKI Jakarta, Anda harus sadar hak itu,” tandas Jos.  

Mahasiswa Hubungan Masyarakat Universitas Paramadina menginisiasi sebuah kampanye berjudul “Paramadina Youth Campaign”. Tujuan kampanye ini adalah untuk mengubah polapikir anak-anak muda tentang transportasi publik. Kampanye dilakukan antara lain dengan mengadakan diskusi interaktif ini dilanjutkan dengan naik Transjakarta dan melakukan selfie challenge di Instagram dengan hashtag #BuswayYuk.

Hadir juga sebagai narasumber; Dosen Universitas Paramadina dan Pendiri KedaiKopi, Hendri Satrio, Head of Communication Jakarta Smart City, Daniel Giovanni, dan Trafi Country Manager Indonesia, Dimas Dwilasetio. Acara ini didukung TransJakarta, Jakarta Smart City, dan Trafi, serta disponsori Mandiriku, Carribou, dan BRIK.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar