Selasa, 29 November 2016

Rayakan Kuliner Nusantara Masih Sebatas Maknyus dan Ajib


Maraknya kebudaya Nusantara yang diklaim negara lain ini tak pelak menggedor nasionalisme kita juga. Tapi apakah sontak kita bisa bilang Malaysia telah mengklaim atau mengaku-aku budaya asli Indonesia? Aseli? Yakin? Padahal suatu budaya tercipta dari proses pertemuan antar budaya dari daerah bahkan negeri yang berlainan. Jangan terjebak ke nasionalisme kemenyan, Sejarawan JJ Rizal mengingatkan. Wah, apa tuh?



Daging Sua Semur Jumpa Kecap di Hari Raya   

“Klaim ini menjadi persoalan karena ada nasionalisme yang disebut Bung Karno sebagai nasionalisme kemenyan. Nasionalisme tanpa pengetahuan. Banyak dari kebudayaan yang diterima, sesungguhnya juga berawal dari pertemuan-pertemuan dengan tradisi, budaya,  bangsa, ras, etnik, yang lain,” bebernya dalam Peluncuran Aplikasi Peta Kuliner Nusantara (LENGKUAS), bukalapak.com, Cityview, Kemang, Jakarta (26/11/16).

Rizal menyontohkan semur, suatu teknik purba mengolah dan mengawetkan daging yang dimiliki tiap masyarakat. Semur baru menjadi nama semur daging ketika datang orang-orang Tionghoa ke tanah air yang memperkenalkannya ke perempuan-perempuan lokal yang mereka peristri.   

“Jadi cara mengelola daging dengan semur ini memang hidup di mana-mana. Tapi semur baru menjadi semur ketika ada orang-orang Tionghoa datang. Dia menikahi perempuan-perempuan pribumi, sementara lidahnya masih terbawa dari negeri asalnya. Maka si istri diajarkan cara membuat k├┤echiap; sari ikan. Tapi si istri ini orang Melayu. Dia tidak mau asal terima, maka dimasukkan unsur budayanya; gula Jawa. Jadilah kecap manis. Di seluruh galaksi tidak ada kecap manis, cuma di sini. Apakah ini bisa disebut produk Indonesia?” ungkapnya.

Yang menarik, lanjut Rizal, teknik pengolahan daging dari tradisi purba, bertemu kecap yang merupakan pertemuan dua budaya, tapi orang Belanda yang memberi nama semur/ smoor; daging yang dimasak hingga empuk. Semua bertemua di hari raya Ied.

“Uniknya semur ini dimakan pada hari perayaan orang islam, dimakan dengan sayur sambel godok dan ketupat. Jadi bagaimana kita mau mengklaim? Kita punya banyak sekali mahakarya. Kita baru merayakan makanan hari ini sebatas maknyus dan ajib, artinya tidak menempatkan makanan sebagai produk budaya,” imbuh  Penerbit Komunitas Bambu.

Jadi alih-alih meributkan klaim, baik kita rayakan mahakarya ini dengan saling menghomati kebhinekaan, menguatkan persatuan Indonesia... di meja makan.  

“Dari makanan kita bisa belajar persaudaraan, menerima keberagaman sekaligus persatuan kekerabatan kita sebagai nation. Kita secara sederhana bisa belajar dari sila ketiga pancasila persatuan di meja makan. Sebelum jadi nation bernama indonesia, kita nations yang berproses, yang di dalamnya meninggalkan artefak. Makanan menurut saya artefak, bukan hanya arsip. Dia menyimpan dunia pertemuan-pertemuan kita dalam rasa. Tidak ada memori rasa, arsip rasa. Tapi kita bisa memelihara arsip kekerabatan,” pungkas pencetus perilisan kembali Mustika Rasa, Resep Masakan Indonesia.

Acara peluncuran bertajuk “Peta Kekerabatan Kuliner & Jalur Rempah Nusantara”  yang diselenggarakan Sobat Budaya ini juga menghadirkan Presiden Bandung Fe Institute, Founder Sobat Budaya, Hokky Situngkir, Komisaris JNE Johari Zein, dan Ketua Umum Sobat Budaya, Siti Wulandari.    



Tidak ada komentar:

Posting Komentar