Jumat, 30 September 2016

Seminar Leksikografi: Lestarikan Bahasa Daerah Mulai Dari Keluarga


[dok. badanbahasa.kemdikbud.go.id]
Kepunahan bahasa daerah bukan hanya karena penuturnya tidak ada, tapi karena tidak dipakai dan diajarkan. Kepala Bidang Pengembangan, Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Dora Amalia memaparkan. “Kepunahan bahasa bukan karena penuturnya tidak ada. Penutur ada tapi tidak mau memakai dan orang tua tidak mengajarkan. Itu berkaitan dengan sikap bahasa,” ungkapnya dalam Seminar Leksikografi Indonesia: “Tantangan Leksikografis Bahasa-Bahasa Daerah di Indonesia”, Hotel Santika, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, [26/7/16].*





Ajarkan Bahasa Daerah, Bonus Kelestarian

Menurut Dora, mungkin orang tua menganggap tidak penting mengajari anak Bahasa Daerah. Keluarga, terutama di kota besar, cenderung lebih sering mempraktekan Bahasa Indonesia ketimbang Daerah, meski mereka berasal dari etnis yang sama.

“Kalau kita lihat kecenderungan keluarga, di  kota besar terutama, walau orang tua berasal dari satu etnis, bahasa pertama adalah Bahasa Indonesia, bahkan Bahasa Inggris. Adapun Bahasa Daerah hanya dikuasai orang tua yang sesekali menggunakannya antara bapak dan ibu. Anak hanya mendengar, lalu secara pasif menguasai, tapi tidak bisa berbicara,” jelasnya.  

Penelitian yang dilakukan Dora bersama tim beberapa tahun lalu, tentang sikap Bahasa Daerah di 6 kota besar dan daerah perbatasan menunjukan, urutan prioritas adalah Pertama; Bahasa Indonesia, Kedua; Bahasa Inggris, Ketiga; Bahasa Daerah.

“Walau penelitian bersifat kualitatif, kecenderungan penutur terhadap bahasa,  kesimpulannya korelasi masih positif. Tapi begitu kita tanya kasus per kasus ditemukan, mereka lebih mementingkan Bahasa Indonesia, kemudian Bahasa Asing, setelah itu Bahasa Daerah. Kalau kita kaitkan kebijakan Badan Bahasa; Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing, urutan itu tidak tercermin dalam masyarakat tutur di Indonesia,” bebernya.

Diakui Dora, perubahan sikap bahasa merupakan pekerjan besar karena menyangkut perubahan pola pikir. Namun, dengan konsisten mengenalkan bahasa, terutama Bahasa Daerah sejak dini, dapat melatih anak mengenali sistem-sistem bahasa, dan bonusnya; Bahasa Daerah menjadi lestari.   

“Memang perubahan sikap itu pekerjaan besar, karena mengubah mindset. Tapi kita juga harus menyadarkan mereka, pelestarian Bahasa Daerah itu satu hal, penguasaan lebih dari satu bahasa itu menguntungkan. Sejak usia dini, anak dikenalkan dua bahasa atau lebih. Bahasa itu sistem. sistem Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah berbeda. Kalau mereka menguasai dua bahasa dan konsisten diajarkan, anak akan mempunyai kemampuan membedakan kedua sistem itu,” tandasnya.

Untuk mengubah sikap bahasa termasuk membina masyarakat tutur, Badan Bahasa membentuk unit khusus.    

“Kalau kita membatasi diri pada bidang pengembangan dan perlindungan saja, tugasnya hanya sebatas mendokumentasikan supaya bahasa tidak hilang. Mengubah sikap, menyadarkan orang, memang pekerjaan membina masyarakat tutur. Bukan berarti kami menafikan tugas itu, tapi memang ada unit khusus untuk menyadarkan, membina masyarakat tutur bahasa Indonesia dan daerah,” pungkasnya.

Seminar menghadirkan lima narasumber utama, yaitu Prof. Dr. Dadang Sunendar, M. Hum. (Kebijakan Pengembangan Kamus Bahasa Daerah di Indonesia), Deny Arnos Kwary, Ph. D. (Kamus sebagai Kitab Undang-Undang), Dr. Hasan Alwi diwakilkan Azhari Dasman, M.Hum. (Pemerian Makna), dan David Moeljadi (Wordnet Bahasa).

Seminar yang berlangsung empat hari ini juga menghadirkan 14 pemakalah yang membawakan beberapa subtema yaitu (1) Leksikografi Lapangan, (2) Pemanfaatan TIK dalam Penyusunan Kamus, (3) Penanganan Dokumentasi Bahasa-Bahasa Daerah, (4) Aspek-Aspek dalam Penanganan Kata-Kata Budaya dalam Kamus, dan (5) Penyusunan Korpus Bahasa Indonesia.

   

*  penulis mendapat kehormatan menjadi salahsatu  peserta seminar.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar