Rabu, 29 Oktober 2014

Storytelling for Comics: Jangan Tunggu Inspirasi, Kuasai Fundamentalnya!

Sepenggal wasiat profetik berbunyi: “… Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore”. Pesan ini juga berlaku saat bercerita dalam tuangan gambar. Ilustrator Caravan Studio, Hendry Iwanaga, mengungkapkan, jangan tunggu inspirasi, tapi ketahui fundamentalnya. Apakah itu? 






Ngomik Bisa Menafkahi

"Dalam bercerita atau menggambar ada yang namanya fundamental. kalau kita tidak mengetahuinya, mengambar pun susah. sama halnya bercerita. Sebelumnya, kita bikin asal ada inspirasi. Tidak ada inspirasi tidak bisa. Ternyata, tidak ada inspirasi pun kita bisa. Karena ada fundamental atau dasar bercerita. Jadi jangan menunggu inspirasi,” urainya saat berbagi ilmu di talkshow: Storytelling for Comics, di perhelatan Cocoon Festival, Jakarta Design Center (25/10/14)  

Mirip formula menulis novel atau naskah, dalam komik ada tiga hal yang penting yaitu premis, logline dan elemen cerita. Setelah premis, masuk ke logline yang lebih detil. Yang paling penting, di logline ada tujuan dan konflik. Logline menunjukkan fokus cerita hingga tidak melebar. Elemen bercerita terdiri dari perkenalan, masalah, perkembangan, krisis, klimaks dan resolusi.

Lokakarya berkembang seru, ketika seseorang yang semula hanya mengantar anak, antusias bertanya soal menjadi komikus dan prospeknya. Apakah bisa bikin kaya? Hendry pun bertutur panjanglebar.

“Saya tidak pernah memutuskan ingin jadi komikus, sampai kuliah masuk desain komunikasi visual. Setelah lulus, semua inginnya di advertising. karena lebih menjanjikan atau fotografer yang lagi booming. Tapi kalau ditanya, passion saya, dari kecil paling suka membaca komik dan menggambar. Saya mulai mengasah keahlian ketika berkesempatan magang di perusahaan studio ilustrasi dan komik yang cukup oke. Ternyata banyak sekali jalur komikus dan mereka menghasilkan karya-karya di luar negeri,” kisah Hendry berbinar.

Di Indonesia, lembaga pendidikan formal khusus untuk belajar komik belum ada. Di luar negeri sudah ada, seperti Comic Studies, dsb. Untuk mengasah kemampuan, kita bisa mengikuti kelas belajar mengambar, tutorial dari internet dan bergabung dalam komunitas. Untuk yang terakhir ini sangat penting, karena bisa selalu menyalakan ide dan semangat

“Komunitas penting sekali. Dari sana pasti ada orang-orang yang punya talenta luar biasa. Kita biasanya terpacu untuk teruberkembang. Apakah komik menghasilkan? Saya bekerja di studio yang biasa mengerjakan projek-projek besar di luar negeri. Kalau membuat komik sendiri seperti investasi, sambil kita servicing klien. Kita punya  cerita sendiri yang mudah-mudahan bisa berbuah. Sehingga tidak melulu mengerjakan pekerjaan dari klien. Suatu hari investasi kita berbuah, kita bisa mengerjakan hal yang paling kita sukai. Pasti hasilnya luar biasa,” jelasnya.

Pembicara lainnya, Vino, menambahkan, sebagian besar komikus Indonesia bekerja utama sebagai ilustrator atau dosen.

“Sebagian besar komikus di indonesia masih bekerja sebagai komikus luar, ada yang sebagai dosen. Seperti kita, pekerjaannya illustrator. Komik ini hobi. Kalau di Jepang, orang bikin komik sudah bisa kaya. Indonesia sedang menuju ke sana,” tandasnya optimistis.

Selanjutnya, Vino menjelaskan soal pengenalan cara-cara bercerita dalam komik. Ada shonen jump style, classic/ pixar style, doraemon style, dan (favorite saya) plot twist style. Hendry dan Vino adalah kreator Hyper Fusion Cyberg Idol Rinka. Setelah mengetahui resep cara membuat komik yang keren, para peserta ditantang membuat premis dan logline yang menarik, dan beberapa yang menarik mendapat hadiah-hadiah yang menarik. (Ark)   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar