Jumat, 26 September 2014

Jepang Heran Komiknya ‘Ditelan’ Bulat


Komik Jepang atau manga laku keras di pasar Asia, Amerika, sampai Eropa Barat dan Timur. Hal ini kerap membuat Jepang heran betapa karya mereka bisa ‘ditelan’ bulat-bulat pembacanya di penjuru dunia. Demikian ungkap pengamat komik dan jurnalis lepas, Hikmat Darmawan. “Paling tidak, mayoritas komikusnya seringkali heran kenapa komik mereka ditelan bulat-bulat konsumen di negara lain, dari Asia, Amerika, sampai Eropa Barat dan Timur. Jerman misalnya, salahsatu penerbitan yang sangat laris di sana adalah manga. Komikus, perusahan apalagi pemerintah Jepang  seringkali heran, kok bisa?,” Sebutnya dalam comic talkshow Akademi Samali bertajuk “Preparing Publishing Industries to Face AFTA.” di ajang Popcon Asia 2014, Gedung Smesco, Jakarta, sabtu (20/9/14).  




Disokong Pemerintah

Padahal, lanjut Hikmat, komik Jepang bermuatan lokal, dan bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Tapi justru hal ini menjadi salahsatu modal untuk bersaing di pasar terbuka asia, yaitu dengan menggali nilai lokal.

“Dari tahun-tahun awal, Osamu Tezuka mengembangkan industri manga di Jepang, mereka hanya bikin komik itu pikirannya adalah membuat cerita bagi mereka sendiri. Jadi sangat lokal konteksnya. Maksud saya, kalau menggali potensi lokal, malah jangan-jangan itu adalah modal budaya yang sangat penting. Jadi tolong digali,” katanya.

Pembicara berikutnya, komikus Singapura, Lim Cheng Tju memaparkan, komik di negaranya kurang berkembang. Kalaupun mau survive, seniman di sana mesti menempel ke Pemerintah yang memang punya anggaran untuk menyokong seniman.

"Benar ada funding dari pemerintah untuk seniman-seniman di Singapura. Tapi (karya) mereka tidak menyinggung isu-isu politik. Pernah ada satu seniman yang membuat kartun di internet bermuatan politis kemudian dituntut pemerintah,” sebutnya.

Para komikus memang dapat menerbitkan karya-karya lewat dana hibah, namun ada syarat dan ketentuan yang berlaku, yaitu tidak berisi muatan politis dan kritik. Maka, kebanyakan komik di Singapura bercorak sentimentil, tidak memikirkan apa mau pembaca, mereka menggambar sesuka mereka, selama dibiayai dan diterbitkan pemerintah. Tentang hal ini Cheng Tju punya pandangan sendiri.

“Funding kurang elok untuk seorang seniman. Because funding makes the artist less hungry. Mestinya saat kau berkarya, ia untuk dirimu dan pembaca, ” tandasnya. 

Hadir juga sebagai pembicara novelis grafis Rampokan Jawa dan Selebes, Peter van Dongen. Obrolan Santai ini dimoderatori Surjorimba Suroto.










2 komentar:

  1. Waktu pertama lihat komik Jepang dulu (tahun 70-an), yang langsung terlintas adalah: kok mukanya (ekspresi) tegang melulu? Sekarang saya lebih heran, karena ternyata penggemar dewasanya (seperti mahasiswa) juga banyak. Semoga komik kita (juga film dll) bisa menciptakan karakter yang khas Indonesia ya, tidak justru mengkopi visualisasi robot Jepang. :)

    BalasHapus
  2. amin,
    jika sempat datang ke acara tsb, bnyk perkembangan yg membanggakan dari karya anak bangsa. cuma mmg di sini pasarnya masih dominan yg visualisasi robot, tp sdh bnayk yg pede dgn ciri khas indonesianya. tinggal kita dukung lebih nyaring lagi biar terasa gaungnya.. hehe

    makasih dah mampir :D

    BalasHapus