Senin, 07 Mei 2012

"Guru Harus Menggurui”


Ungkapan “guru tidak boleh menggurui” dalam proses belajar-mengajar kerap terlontar hampir di tiap forum yang mengupas pendidikan. Menurut Aktivis Pendidikan Habe Arifin, ungkapan tersebut justru mendekontruksi peran dan sosok guru sehingga perlu ditinjauulang.  Hal ini disampaikan dalam peluncuran buku ‘Mindset Pembelaran: 10 langkah mendidik siswa secara kreatif dan humanis’ karya Yusron Aminulloh di ICMI Center, Jakarta. (21/7).



Didik Lewat Keteladanan
“Sebut saja guru tidak boleh mendoktrin, atau tidak boleh monoton dalam menyampaikan pelajaran. Tapi jangan disebut ‘tidak boleh menggurui’. Karena artinya ini dekonstruksi terhadap sosok, fungsi dan paradigma guru. Jadi sosok guru akan tetap kita jaga kecuali memang guru itu kemudian meruntuhkan profesi dan kewibawaanya sendiri,” jelas Sekretaris Konsorsium Sepeda Sekolah Indonesia.
Hal tersebut diamini pengurus ICMI Pusat bidang Pemberdayaan Anak dan Remaja, Yudhistira ANM Massardi. “Hanya guru yang boleh menggurui. Guru harus menggurui, kalau dia tidak menggurui, jangan jadi guru. Jadi tolong dikembalikan kata ini kepada yang seharusnya. Ini kita diskusikan supaya guru tidak alergi terhadap kata itu,” ujar Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi.
Pembahas lainnya, Dety Anggraeni mengatakan, guru bisa mendidik mulai dari hal-hal kecil yang dicontohkan. Misal soal penampilan sang guru. “Guru perempuan di sekolah kami berjilbab semua dan tidak sengaja memakai model jilbab sama. Dan pada tahun kemarin dimulai siswi kelas V, mereka pakai jilbab mirip kita. Semua sisiwi mengikuti mulai kelas I sampai VI, yang awalnya hanya pakai jilbab kaos saja. Itu hanya satu keteladanan kecil. Apalagi bicara attitude guru. Untuk sekolah dasar, orang tua menempatkan anak-anaknya di sekolah dengan guru-guru yang punya karakter yang kuat,” tandas kepala Sekolah Dasar Islam Sabilina.
kemudian Dety membuka satu bab di buku tersebut tentang makna sebuah kata dan kalimat. Bagaimana kalimat negatif bisa dicarikan solusi dengan pengganti kata dan kalimat yang tepat dalam berkomunikasi dengan murid. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru. “Ketika kita bilang ‘jangan lari!', si anak sudah lari. Benar-benar butuh jam terbang untuk melatih makna sebuah kata dan kalimat. Agak sulit tapi insya Allah bisa dilatih,” imbuhnya.
Kesimpulannya,  memperbanyak pertanyaan bukan pernyataan. “Jadi ketika ada anak numpahin sirup di lantai, tidak langsung kita mengatakan ‘bersihkan dengan lap!’. Tapi bertanya; ‘bagaimana sebaiknya?’ Jadi lebih pada anak berpikir kritis. Kita berusaha dengan ungkapan yang menjadikan anak kritis, kreatif dan punya inisiatif yang tinggi ke depannya,” pungkasnya.
Buku karya Pengurus Pusat ICMI Anggota Departemen Pemberdayaan Anak dan Remaja ini merupakan himpunan pengalaman penulis selama melakukan pelatihan ‘Menebar Energi Positif’ ke seluruh Indonesia juga dari peristiwa sehari-hari. Hadir juga dalam peluncuran buku itu Presidium ICMI, Marwah Daud Ibrahim.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar