Minggu, 04 Mei 2014

Prabowo Gemetar, Saya Merinding


Saya selalu berupaya tidak melewatkan silaturahim bersama ulama, ustadz, habaib, tokoh masyarakat. Hingga suatu malam, kegiatan yang rutin saya ikuti itu akan menerima kunjungan seorang tamu khusus. Majelis zikir kami malam itu menghadirkan Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Prabowo Subianto. Awalnya, Informasi dari ajudan mengabarkan pembatalan datang, karena harus menghadiri agenda ke luar negeri. Beberapa waktu kemudian, konfirmasi terbaru mengabarkan, acara tersebut ternyata diundur. Agenda yang pertamakali dipenuhi adalah menghadiri majelis zikir ini. Sering kita dengar dan baca soal kontroversial mantan danjen kopasus ini. Tapi, malam itu saya menyaksikan dengan mata dan kepala sendiri, sisi lain sang purnawirawan.


Seperti biasa acara berlangsung ba’da Isya. Namun, para jamaah sudah datang dari berbagai tempat sejak sebelum ashar. Ruangan-ruangan untuk tamu yang menyenangkan dan pekarangan yang hijau teduh membuat para jamaah betah. Meski saya yakin, mereka tidak meminta itu dan kita pun bukan lagi tamu. Mereka datang sungguh hanya untuk bisa menemui guru-gurunya, melepas kangen, rindu siraman, butuh bimbingan, perlu aktualisasi, men-charge hidup, hidup ini.

Tiap butir acara bergulir, para jamaah larut dalam pujian dan doa yang dipanjatkan, mengharap keridhaan Allah SWT dan bersalawat bagi junjungan kita; Nabi Muhammad saw. Hingga tiba saat Prabowo Subianto, diiringi rombongan, disertai lantunan penyambut, berpagar betis pendekar-pendekar berpangsi hitam, meniti satu persatu tangga naik ke panggung tinggi. Saya yang memperoleh kesempatan mengabadikan momen itu, turut naik hingga bisa ikut melihat betapa lautan manusia dari berbagai latarbelakang, berbalut putih-putih, sedang menengadah tangan memohon ridhaNYA, di bawah bulan, langit yang berbintang. Sungguh senang tak terperi saya pun bisa duduk di belakang para ustadz dan habaib, mencium harum mereka dan sesekali ke depan memotretnya.  

Para jamaah belum tahu ada penyampai lain selain yang biasa mereka dengarkan. Terlihat, saat tentara kini pengusaha itu muncul dan diperkenalkan, mereka baru bertanya satu sama lain. Memang, hanya lingkungan panitia majelis zikir yang diberitahu guna memperketat penjagaan lebih dari biasanya.

Tidak Mungkin Jauh Dari Kiyai

Duduk di atas depan memungkinkan saya mendengar suara setengah berbisik memohon saran di sebelah kanan dan kirinya; “Saya harus ngomong apa?” Beberapa saat kemudian seorang ulama sepuh menepuk pundaknya tanpa bicara, atau saya yang tidak mampu mendengar suaranya, karena terlalu sayup ditelan yel-yel khas jamaah; ‘luar biasa!’. Namun terlihat raut si penanya berubah berseri, lalu mantap meraih mikrofon, ke depan maju untuk kemudian membahanakan salam untuk semesta.

“Di lautan manusia ini, saya lihat dan rasakan suatu persatuan, cinta, taqwa dan keimanan yang luar biasa. Terima kasih saya diperkenankan hadir pada malam hari ini bersama saudara sekalian. Saya diminta memberi sambutan tapi saya tanya; saya disuruh bicara apa? Karena begitu banyak pembicara yang luar biasa. Saya bingung mau bicara apa.”

Prabowo memperkenalkan diri. Ia menyampaikan tidak akan bicara di luar kebangsaan. Ia mengaku terkesan dan bersyukur bisa hadir di tengah kiyai-kiyai dan ulama yang luar biasa, yang pancasilais, nasionalis, merah-putih, cinta tanah air. Mengajarkan kita, Islam penuh cinta, menghormati perbedaan, bersama menjaga kedamaian dan keutuhan bangsa dan negara kita. Terakhir memang baru saja kita mendengar salahsatu ustad menyanyikan lagu ‘berkibarlah benderaku’. Seperti sebuah nyanyian kode bahwa akan ada pembicara yang lain dari malam biasanya. 

Saya juga ingin belajar Islam dengan baik. Maklum, saya ini dulunya tentara. Shalatnya banyak bolong. Tapi hati dan iman tetap Islam. Kalau tentara prajurit tdk mungkin jauh dari kiyai. Apalagi kalau tentara, pasukan tempur harus berangkat . Kalau berangkat perang, yang pertama dicari adalah kiyai. ‘Pak Kiyai, mohon didoakan’. Bohong kalau tentara berangkat tidak menghadap Kiyainya. Tanya para tentara. Sebelum berangkat, mesti cari kiyai.

Lautan jamaah menyambut dengan gelak. Suasana pun berlanjut lebih cair. Di  sebelah kiri saya ada yang mengeluarkan telfon genggam, berpikir perlu mengabadikan momen dari belakang. Di depan, teriakan ‘luar biasa!’ kembali terdengar.  

“Saudara-saudara, yang penting, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengatakan, bahwa benar kita adalah bangsa yang besar. Setelah saya pelajari bersama pakar-pakar ekonomi dan  teknologi, Negara kita sangat kaya. Tapi celakanya banyak di antara kita, terutama pemimpin-pemimpin kita yang kalau mau pemilihan datang ke rakyat, banyak pidato, banyak janji. Begitu dipiilih, lupa sama rakyatnya. kemudian lupa ajaran agama, mencuri uang rakyat. Jadi, saudara , para kiyai, para ustad, ulama, para pemimpin umat, hanya dengan kekuatan iman, doa dan cinta tanah air, kalau para ulama nanti turun gunung semua, baru bangsa kita, Republik kita akan bangkit !
 
Saya beringsut bangkit, terpantik untuk menangkap gelora yang sepertinya akan meletup memuncak.

“Sekarang kita berdoa semoga para petugas penegak bukum, agar mereka yang bertanggungjawab, akan terus memberantas korupsi, tidak gentar, tidak surut mundur, tidak akan dibohongi terus menerus. Karena Bapak-Ibu, yang kita inginkan semua adalah apa yang disebut  tata tentram kerta raharja, gemah ripah loh jinawi. Kita menginginkan negara yang damai, aman, dan kita ingin kemakmuran bangs ini dirasakan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh seluruh rakyat Indonesia. Jangan kekayaan bangsa dinikmati segelintir orang saja. Tidak boleh satu persen bangsa kita menikmati sebagian besar kekayaan kita. itu namanya tidak adil. Kekayaan bangsa adalah milik rakyat semua, harus dimanfaatkan seluruh rakyat indonesia!”

Kini saya mendengar ledakan takbir. Saya terkesiap, mendengar asma yang biasa terpekik kala para ulama dan kiyai mengelorakan umat semangat. Terdengar bisikan doa di kanan-kiri. Bulu kuduk saya merinding.

“Jamaah ini seperti kopasus juga saya lihat. Sebetulnya, gemetar juga kaki saya. Kalau memberikan tausiyah di depan bekas prajurit atau prajurit sudah biasa. Kasih ceramah di depan petani, mahasiswa atau kader-kader politik, itu sudah biasa. Saya bisa bicara 4 jam tidak berhenti. Tapi malam ini agak gemetar juga. Banyak Kiyai. Kalau menghadapi baret merah, baret hijau, tidak apa-apa. Tapi ini baret putih! Satu hal, saya mau ngomong apa? tapi ya sudahlah bicaralah apa yang ada di hatimu. kalau hati kita tulus bersih, tidak usah takut. Rakyat akan mengerti, siapa yang benar dan yang tidak. Siapa yang di jalan lurus, di jalan yang diridhai Yang Maha Kuasa, dan mereka yang berada di jalan keliru.”

Sang Jenderal akan mengakhirinya.

“Semoga Yang Maha Kuasa selalu memberi petunjuk dan melindungi kita sekalian. Sehingga kita bisa menjaga agama, bangsa, umat , rakyat kita, dan semoga kita bisa mencapai apa yang dicitacitakan. Masyarakat adil dan makmur, di mana yang berkuasa adalah kebenaran, keadilan, yang jujur dan bersih, di mana orang miskin harus diangkat derajatnya, selama masih ada kemiskinan di Bangsa kita, selama bangsa kita tidak boleh istirahat, lengah, berhenti. Saya kok tadi minta waktu sebentar tapi tidak mau turun-turun. Saya berterimakasih diajak ke sini. Saya bisa merasakan semangat dan ketulusan saudara-saudara. patriotisme saudara-saudara. Inilah Islam yang luar biasa. Cinta tanah air, cinta damai, bersatu. Islam yang tidak mau pecah belah. Terima kasih kehormatan yang diberikan kepada saya. Mudah-mudahan, saya boleh hadir sering ke sini. Insya Allah, kalau diijinkan, saya ingin kembali ke sini. Rasanya cocok saya di sini. luar biasa. Merdeka! Hidup Indonesia! Hidup Islam!”

Gemuruh riuh jamaah kembali terdengar. Malam yang kian larut,  tapi antusias belumlah surut. Tetiba benak membayang penggalan scene seorang panglima membakar semangat pasukan usai shalat berjamaah di tanah lapang. Prabowo Subianto mengikuti acara hingga selesai, tepatnya pukul 3 malam menjelang subuh.

Sering kita dengar soal kontroversial mantan danjen kopasus ini. Namun, malam itu saya menyaksikan dengan mata dan kepala sendiri, sisi lain sang jendral. Saya selalu yakin akan keajaiban silaturahim. Siapa yang menjalin silaturahim dengan kiyai, ulama, guru, siapa yang berkumpul dengan orang-orang saleh, Insya Allah, akan terpercik wangi, rahmat senantiasa menaungi. Bersama jamaah lainnya saya pulang, membawa cerita, menyimpan memori, menyungging senyum, membagi pengalaman barusan dengan kawan seperjalanan, ditepuk angin malam masuk jendela, berkendara menuju rumah.     

rengasdengklok, september, 2013

Selasa, 18 Februari 2014

shalat berhadiah untuk the swing ummah

  
Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan menyediakan hadiah berupa berangkat haji, umrah, dan mobil Toyota Innova milik pribadinya bagi warga daerah itu jika rajin shalat dzuhur berjamaah di Masjid Agung At-Taqwa tiap hari Rabu. Tentu tidak semudah itu.  Sang walikota mengajukan syarat dan ketentuan yang berlaku.


Jumat, 24 Januari 2014

Kemarin Ustadz Muda. Hari Ini Kiyai Sepuh.

Kemarin seorang ustadz muda meninggal. Hari ini seorang kiyai sepuh berpulang. dan saya masih diberi kesempatan untuk menuliskannya ...



Senin, 09 Desember 2013

Jangan Mau Jadi Objek Rating!

Tantangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam kepengurusan baru (Periode 2013-2016) adalah menghadapi konstruksi industri penyiaran nasional hari ini, yang sebagian besar belum sadar soal informasi mendidik. “Kami punya keinginan merubah paradigma industri penyiaran tidak pada orientasi rating. Kalau baca UU Penyiaran, tujuan lembaga penyiaran yang pertama adalah integrasi nasional, kemudian membentuk watak bangsa yang beretika dan beragama, dan seterusnya. Sedang fungsi pertumbuhan ekonomi di urutan akhir. Tapi yang terjadi sekarang sebaliknya,” ungkap Ketua KPI Pusat, Judhariksawan, dalam Workshop Radio dan TV Komunitas, Avara Lounge & Function Hall, Rasuna Epicentrum, Jakarta (9/12/13).

Senin, 11 November 2013

bab hantamnya jilbab hitam






apa sih yang lagi trending topic di twitland? oh. ada nih. JILBAB HITAM. apa tuh? ada apa dengan jilbab hitam? ia adalah id salahseorang kompasianer yang menurunkan tulisan mengerikan dan brutal, berjudul Mengerikan dan Brutal, TEMPO dan KataData ‘Memeras’ Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas? yang beberapa saat kemudian dihapus.

 http://politik.kompasiana.com/2013/11/11/tempo-dan-katadata-memeras-bank-mandiri-dalam-kasus-skk-migas-608439.html?


Kamis, 29 Agustus 2013

Ini Mah Pilem Romantis!




Nuansa tahun 70an sepertinya atmosfir paling oke untuk menjajakan film-film horor terutama genre perukyahan ala barat ini. Saya saja masih ngeri kalau nonton Suzanna meski teknologi layar lebar  saat itu minim. Belum ada CGI, dsb

Sekadar menyebutkan beberapa, formula paten dari film ini adalah, tidak diumbarnya kehororan kapanpun memungkinkan, melainkan bibit-bibt kengerian dipelilhara dan dibiarkan tumbuh seperti kanker. Juga, katanya, film ini berdasarkan berkas-berkas studi kasus pasangan pengusir hantu terkenal: Ed dan Lorraine Warren, menguatkan emosi penonton  ini adalah kisah nyata. Ya, kisah nyata pengusir hantu. :D

Anyways, Lorraine, yang kini berusia 86 tahun, menjadi kuncen alur cerita film ini. Meski tidak menutup kemungkinan, ada (juga) polesan di sana sini khas Hollywood dibungkus rasa ketimuran dari sang sutradara.


Sedang, suaminya,  Ed Warren, which is saya anggap  sosok suami ideal, meninggal pada 2006 di usia 80 tahun. Ed mengajarkan, mengerem keAKUan demi pasangan adalah resep langgeng rumah tangga. 

Jadi, saya tertipu, The CONJURING itu sebenaranya film romantis. Bahwa, se'horor' apapun hidup, lebih seru jika diarungi bersama orang-orang tercinta; dengan suami, istri, anak, kakak, adik, saudara, kerabat,  dan sahabat. 

Terakhir,  saya kutip potongan percakapan kesukaan di film ini;  Ed: I cant lose you. Loraine: You wont. Lets finish it together. Demit sekelas apapun juga akan terbirit melihat kegigihan manusia seperti ini.

Senin, 22 Juli 2013

Islamisasi, Supaya Muslim Tidak Ikut-ikutan

Islamisasi di segala sendi kehidupan bukan ingin mengubah non muslim masuk Islam. Bukan pula suatu gejala fanatisme agama seperti yang dituduhkan, melainkan sebuah upaya menjadikan nilai-nilai Islam sebagai sumber dari aktivitas kehidupan manusia. “ Jadi orang Islamnya yang dibenahi. Adapun setelah itu juga bermanfaat bagi peradaban Barat,  tandas Ustadz Adnin Armas, MA dalam Seminar dan Diskusi Publik  Islam, ilmu dan Peradaban: "Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer” yang digelar di AQL Islamic Center, Jakarta (20/7/13).